gaji papa berapa…?

Posted on 26/01/2010

28


Seperti biasa Andre, yang menjabat sebagai kepala cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di Jakarta tiba di rumahnya tepat pada pukul 9 malam. Namun yang menjadi tak seperti biasanya adalah Sara, putri pertamanya yang baru duduk di kelas tiga SD membukakan pintu untuknya. Nampaknya Sara sudah menunggu papa nya pulang cukup lama.

“Kok, belum tidur ?” sapa Andre sambil mencium anaknya.

Biasanya Sara memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari.

Sambil membuntuti sang Papa menuju ruang keluarga, Sara menjawab, “Aku nunggu Papa pulang. Sebab aku mau tanya gaji papa berapa?”

Sambil tersenyum dan menatap wajah Sara “lho tumben, kok nanya gaji Papa ? Mau minta uang jajan lagi, ya ?”

“Ah, enggak. Sara pengen tahu saja pa” ucap Sara singkat.

Kemudian sang papa mendekati Sara,

“Coba Sara boleh hitung sendiri. Setiap hari Papa bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp. 400.000, setiap bulan rata-rata dihitung 22 hari kerja. Sabtu dan Minggu libur, kadang Sabtu Papa masih lembur. Jadi, gaji Papa dalam satu bulan berapa, hayo ?”

Sara berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar sementara papanya melepas sepatu dan menyalakan televisi.

Ketika Andre beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Sara berlari mengikutinya. “Kalo satu hari Papa dibayar Rp. 400.000 untuk 10 jam, berarti satu jam Papa digaji Rp. 40.000 kan” katanya.

“Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki cuci tangan, kemudian Sara tidur ya sudah larut malam” perintah papa nya.

Tetapi Sara tidak beranjak. Sambil menyaksikan Papa nya berganti pakaian, Sara kembali bertanya, “Papa, aku boleh pinjam uang Rp. 5.000  enggak?”

“Sudah, tidak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini ? Papa capek, papa mau mandi dan istirahat. Tidurlah”.

“Tapi Papa…” renggek Sara

Kesabaran Andre pun melemah. “Papa bilang tidur !” hardiknya mengejutkan Sara.

Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya.

Usai mandi, Andre nampak menyesali teriakannya pada anak itu kemudian ia menengok Sara di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Sara didapati sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp15.000 di tangannya.

Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Andre berkata,”Maafkan Papa Nak, Papa sayang sama Sara. Tapi buat apa sih minta uang malam-malam begini ? Kalau mau beli mainan, besok kan bisa. Jangankan Rp.5.000 lebih dari itu pun Papa pasti beri buat Sara” jawab Andre.

“Papa, Sara enggak minta uang. Sara hanya pinjam. Nanti Sara kembalikan kalau tabungan dari uang jajan selama seminggu ini sudah terkumpul”.

“lya, iya, tapi buat apa ?” tanya Andre lembut.

“Aku menunggu Papa dari jam 8. Aku mau ajak Papa main ular tangga. Tiga puluh menit saja. Mama sering bilang kalo waktu Papa itu sangat berharga. Jadi, aku mau ganti waktu Papa. Aku buka tabunganku, hanya ada Rp.15.000 tapi karena Papa bilang satu jam Papa dibayar Rp. 40.000 maka setengah jam aku harus ganti Rp. 20.000. Tapi uang tabunganku kurang Rp. 5.000 makanya aku mau pinjam dari Papa” kata Sara polos.

Andre pun terdiam. ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat dengan perasaan haru. Dia baru menyadari, ternyata limpahan harta yang dia berikan selama ini, tidak cukup untuk “membeli” kebahagiaan untuk anaknya.

*source: sudah ada dimanamana
buat yg ngorbit pertama Like this..!!

Posted in: Life