The Greatest Sacrifice

Posted on 04/04/2010

2


Seorang bapak setengah baya bekerja pada sebuah perusahaan jawatan kereta api. Tugas bapak ini sebenarnya sangat sederhana yaitu menarik tuas yang menggerakkan roda-roda raksasa yang saling berhubungan untuk mengangkat jembatan yang merintangi jalan kereta api sehingga kereta api bisa melewati jembatan dengan selamat.

Bapak tersebut tinggal bersama anaknya laki-laki yang sangat dikasihinya. Anak tersebut sangat senang melihat kereta api.

Suatu saat sang bapak sedang bekerja dengan ditemani anak semata wayangnya. Sewaktu anak itu sedang melihat-lihat roda-roda raksasa tersebut, tiba-tiba dia terpeleset dan jatuh diantara roda-roda raksasa sehingga dia tidak dapat melepaskan dirinya. Sesaat kemudian dia berteriak memanggil bapaknya. Bapak anak itu terkejut dan berusaha menolong anaknya. Dengan segala cara dia berusaha menolong, tetapi sia-sia.

Setelah berusaha sekian lama sang bapak masih belum juga dapat melepaskan kaki anaknya dari jepitan roda-roda raksasa. Tiba-tiba dari kejauhan terdengar sayup-sayup suara peluit tanda agar jembatan tersebut segera diangkat. Didalam hati bapak ini timbul kebimbangan, haruskah dia mengorbankan anak semata wayangnya yang sangat dia kasihi demi menyelamatkan penumpang yang berada di dalam kereta api yang sama sekali tidak dia kenal. Jika ia memilih menyelamatkan anaknya, berapa banyak jiwa yang akan melayang sia-sia demi menyelamatkan anaknya!!

Dengan hati yang hancur ia mulai berdiri menuju tuas pengangkat jembatan. Dengan air mata yang membasahi bajunya sang bapak melihat sekali lagi ke arah anaknya. Sesaat kemudian dia menarik tuasnya dan jatuh lemas kemudian menangis sejadi-jadinya tanpa berani melihat proses kematian anaknya yang begitu tragis demi menyelamatkan orang-orang yang berada didalam kereta api yang sama sekali tidak mengetahui bahwa saat itu mereka telah dibebaskan dari malapetaka.

Dari cerita itu, saya belajar bahwa bukan sebuah perkara yang mudah bagi Bapa untuk mengorbankan anak Nya yang tunggal. Bukan pula hal yang mudah bagi anak-Nya untuk memberikan diri Nya ganti kita. “Namun karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada Nya tidak binasa melainkan beroleh kehidupan yang kekal.”

Dia mau mati dikayu salib itu bukan karena tanpa alasan ataupun karena Dia melakukan kesalahan yang besar sehingga memang layak mendapat hukuman, tapi karena Dia sangat peduli pada hidup kita, kita sangat berharga dan istimewa untuknya.

Kata Nya: “Akulah gembala yang baik, Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya. Dan tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.

Itu yang Dia berikan pada kita, SalibNya adalah bukti cinta Nya, Dia setia dan taat sampai akhir (the greatest sacrifice) dan kebangkitannya sudah membuktikan bahwa Dia menang atas kuasa maut. Dia memberikan kehidupan baru  bagi kita, yaitu hari baru yang penuh dengan kasih, sukacita, damaisejahtera, dan pengharapan. Happi Easter All..!!!

Posted in: Faith