Kepiting, Cacing, atau Rajawali?

Posted on 08/06/2011

10


Kepiting, kepiting

Kenapa kamu jalan ke samping

Kepiting, kepiting

Kenapa rumah kamu didalam pasir?

Kepiting, kepiting

Kenapa selalu sembunyi?

Padahal kamu keren..!!!

—————————————————————-

Suatu hari si Cacing pergi ke ladang Pak Tani
Di sana ia menari-nari, berteman dengan Bu Tanah dan Tuan Padi
Kata mereka, “kau berharga sekali cacing, kau membuat kami menjadi berarti…”

Si Cacing senang, merasa tenang
Dirinya dibutuhkan, dirinya tidak dibuang

Sampai suatu musim kemarau datang
Padi dan tanah butuh air di ladang

Si Cacing dilupakan, ia kembali sendirian
Air lebih diperhatikan, ia tak dibutuhkan

Walau tidak dibutuhkan,

Walau tidak diperlukan,

tapi ia harus kuat, karena cacing selalu kuat…

—————————————————————–

Itu adalah cuplikan dari sebuah teenlit remaja berjudul “Dua Kepiting Melawan Dunia”. Ada bagian yang membuat saya memutuskan untuk menulis note ini.

Ada sebagian orang yang bertingkah seperti Kepiting. Sebenarnya mereka punya potensi yang besar. Namun, ada banyak hal yang membuat akhirnya mereka memilih untuk sembunyi di dalam “rumah pasir” dan tidak mau berjalan maju ke depan untuk mengembangkannya.

Ahh, aku malu dengan keluargaku yang berantakan, aku malu dengan kondisi ekonomiku. aku malu dengan masa laluku, aku malu dengan fisikku yang tidak menarik seperti teman-teman yang lain, aku takut dengan kritikan orang, aku malu, aku takut, aku bla bla bla bla. Dan itulah salah satu dari 1001 alasan yang digunakan sebagai “rumah pasir” untuk menyembunyikan sesuatu yang sebenarnya menarik dan berharga yang ada dalam dirinya.

Beda dengan kondisi si Cacing.

Ada orang yang kelihatannya sangat kuat (dari luar). Selalu tersenyum, selalu bahagia, selalu kelihatan sempurna, tetapi jauh di dalam hatinya menyimpan yang namanya luka dan penolakan. Dirinya selalu merasa tidak dibutuhkan lagi apabila teman-temannya atau komunitasnya seakan-akan melupakannya. Meskipun dari luar kelihatan baik-baik saja, tetapi jauh di dalam lubuk hatinya tersimpan luka.

——————————————————————-

Yaps, kalo saya pribadi, saya tidak mau jadi kepiting atau cacing. Why? Sebab Firman Tuhan berkata bahwa ia mengibaratkan saya seperti Rajawali.

Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru ; mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.

Setiap orang pasti punya masa lalu. Setiap orang juga pasti punya masalah. Dan setiap orang juga pasti punya kelebihan dan kekurangan. Masalahnya adalah, “Seberapa kita menyadari bahwa hidup kita diciptakan berharga?”

Kita tidak perlu malu dengan kekurangan kita. Kita tidak perlu malu dengan kondisi ekonomi ataupun keluarga kita. Kita perlu malu jika selama kita hidup, kita belum pernah melakukan kebaikan sama sekali..!!

Kita tidak perlu berharap mendapatkan pujian dari teman-teman kita. Sebab, seberapa hebat pujian yang diberikan oleh manusia, mungkin itu hanya akan selintas saja.

Seharusnya kita berharap kepada Pencipta kita. Seharusnya kita berharap hidup kita benar-benar dapat menyenangkan hati-Nya! Ketika kita mulai fokus hanya untuk menyenangkan hati-Nya, tidak peduli sebesar apa masalah kita, tidak peduli seberapa kacau hidup kita, Ia SANGGUP membuat kita terbang tinggi mengatasi semuanya.

Tiba-tiba, boom, Ia memulihkan hidup kita. Ia mempromosikan hidup kita. Apa saja yang kita lakukan Dia buat berhasil dan berguna bagi oranglain. Tentu saja itu semua karena ada Tuhan dalam hidup kita.

Jadi, apa pilihanmu : kepiting, cacing or Rajawali?

Posted in: Life